Pangkalan Informasi Islam

Selamat Datang di Pangkalan Islam, Media Dakwah dan Informasi

28 May 2026

Hari - Hari Tasyrik

 

Rohmad Riyadi, S.Kom

Pangkalan Islam - Hari Tasyrik merupakan salah satu hari istimewa dalam kalender Islam yang datang setelah Hari Raya Idul Adha. Banyak umat Islam mengenalnya sebagai hari makan dan minum, namun sesungguhnya hari tasyrik memiliki makna ibadah, dzikir, dan rasa syukur yang sangat mendalam.

Hari Tasyrik berlangsung selama tiga hari, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hari-hari ini masih termasuk bagian dari rangkaian ibadah Idul Adha dan ibadah haji.

Pengertian Hari Tasyrik

Kata tasyrik berasal dari bahasa Arab تَشْرِيق yang berarti menjemur sesuatu di bawah sinar matahari. Pada masa dahulu, daging hewan kurban dijemur agar lebih tahan lama, sehingga hari-hari tersebut disebut hari tasyrik.

Dalam syariat Islam, hari tasyrik menjadi hari untuk:

1. Memperbanyak dzikir kepada Allah,

2. Menyempurnakan ibadah kurban

3. Menumbuhkan rasa syukur

4. Mempererat ukhuwah Islamiyah

Dasar Al-Qur’an Tentang Hari Tasyrik

Allah SWT berfirman:

 وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍۗ

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”

(QS. Al-Baqarah: 203)

Para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Imam Ath-Thabari, dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang berbilang” dalam ayat tersebut adalah hari-hari tasyrik.

Hari tasyrik menjadi momentum memperbanyak:

Takbir, Tahmid, Tahlil, Tasbih, Doa dan istighfar


Hadist Tentang Hari Tasyrik

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”

(HR. Muslim)

Hadist ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang. Setelah umat Islam beribadah dan berkurban, Allah memberikan kesempatan untuk menikmati nikmat-Nya dengan tetap mengingat Allah SWT.

Dalam hadist lain Rasulullah ﷺ bersabda:


“Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari ini, karena sesungguhnya hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.”

(HR. Ahmad)

Karena itu mayoritas ulama sepakat bahwa puasa pada hari tasyrik hukumnya haram, kecuali dalam kondisi tertentu bagi jamaah haji yang tidak mendapatkan hewan hadyu.

Amalan-Amalan di Hari Tasyrik

1. Memperbanyak Takbir

Disunnahkan membaca takbir setelah shalat fardhu.

Contoh bacaan takbir:

Allahu Akbar Allahu Akbar,

Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,

Allahu Akbar walillaahil hamd.

2. Berdzikir dan Bersyukur

Hari tasyrik adalah waktu terbaik untuk:

Membaca Al-Qur’an

Memperbanyak doa

Bersedekah

Menjaga silaturahmi

Mengingat nikmat Allah

3. Menyembelih Hewan Kurban

Penyembelihan hewan kurban masih diperbolehkan hingga akhir tanggal 13 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.

Pandangan Ulama Tentang Hari Tasyrik

Imam Ibnu Katsir

Beliau menjelaskan bahwa hari tasyrik adalah hari memperbanyak dzikir kepada Allah setelah pelaksanaan ibadah haji dan kurban.

Imam Nawawi

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menerangkan bahwa larangan puasa pada hari tasyrik menunjukkan bahwa Islam menghendaki umatnya menikmati nikmat Allah dengan penuh rasa syukur.

Syaikh Yusuf Al-Qaradawi

Beliau menjelaskan bahwa hari tasyrik mengajarkan keseimbangan antara ibadah spiritual dan kebersamaan sosial.

Hikmah Hari Tasyrik

1. Menumbuhkan Rasa Syukur

Nikmat makanan, kesehatan, dan kebersamaan adalah karunia Allah yang wajib disyukuri.

2. Mempererat Ukhuwah Islamiyah

Pembagian daging kurban dan kebersamaan keluarga memperkuat persaudaraan umat Islam.

3. Menghidupkan Dzikir

Hari tasyrik mengingatkan umat Islam agar tidak lalai dari mengingat Allah meskipun sedang bergembira.

4. Mengajarkan Keseimbangan

Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga kebahagiaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menghidupkan hari tasyrik dengan ibadah, dzikir, dan amal saleh.

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ

“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.”

(QS. Al-Baqarah: 152)

Rohmad Riyadi, S.Kom

Khadimud Dakwah

Share:

PCM Cibitung Menyelenggarakan Shalat Idul Adha 1447 H

Ust. Agus Tri Sundani, M.SI


Cibitung – Pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cibitung berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat ukhuwah Islamiyah ( 27/5/2026 ). Ratusan jamaah memadati lokasi pelaksanaan shalat sejak pagi hari untuk menunaikan ibadah Idul Adha bersama.

Bertindak sebagai Imam dan Khatib pada pelaksanaan tersebut adalah Ust. Drs. Agus Tri Sundani, M.Si. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang makna ibadah haji dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Khutbah Idul Adha tahun ini mengangkat hikmah dari rangkaian ibadah haji, mulai dari thawaf, sa’i, hingga melontar jumrah. Menurut beliau, thawaf mengandung pelajaran tentang pentingnya menjadikan Allah SWT sebagai pusat kehidupan manusia. Semua aktivitas dan tujuan hidup hendaknya berorientasi kepada ridha Allah SWT.

Sementara itu, ibadah sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah mengajarkan semangat ikhtiar, kesungguhan, dan optimisme sebagaimana dicontohkan oleh Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Adapun melontar jumrah menjadi simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, godaan setan, serta ajakan untuk istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Rohmad Riyadi, S.Kom - Ketua PCM Cibitung


Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cibitung, Rohmad Riyadi, S.Kom, turut menyampaikan sambutan kepada jamaah. Beliau yang juga merupakan alumni SMP dan SMA Muhammadiyah serta dikenal sebagai pegiat dakwah media sosial menyampaikan pentingnya peran Muhammadiyah dalam membangun umat melalui dakwah dan amal usaha.

“Sudah bukan rahasia dan tidak bisa ditutup-tutupi bahwa Muhammadiyah memiliki banyak amal usaha seperti rumah sakit, kampus, sekolah, panti asuhan, dan berbagai lembaga sosial lainnya. Semua itu merupakan bentuk nyata dakwah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan umat,” ujarnya.

Beliau juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung gerakan dakwah Muhammadiyah yang berorientasi pada kemajuan umat, pendidikan yang berkemajuan, serta pelayanan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Jamaah Shalat Idul Adha


Pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 H ini berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kekeluargaan. Setelah pelaksanaan shalat dan khutbah, kegiatan dilanjutkan dengan silaturahmi bersalaman antarjamaah serta foto bersama.

Foto bersama


Momentum Idul Adha diharapkan dapat memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan semangat berkorban demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Redaksi (p/i )

 

Share:

25 May 2026

Beberapa Indikator Haji Mabrur

 

Rohmad Riyadi, S.Kom

Pangkalan Islam - Haji merupakan rukun Islam yang kelima dan menjadi impian kaum Muslimin di seluruh dunia. Namun, tujuan utama dari ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual ke Tanah Suci, melainkan memperoleh predikat “Haji Mabrur.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”

— HR. Bukhari dan Muslim

Lalu, apa indikator atau tanda-tanda seseorang mendapatkan haji mabrur?

Para ulama menjelaskan bahwa kemabruran haji akan tampak dari perubahan iman, ibadah, akhlak, dan perilaku seseorang setelah pulang dari haji.

Berikut beberapa indikator haji mabrur berdasarkan Al-Qur’an, hadist, dan pendapat ulama.

1. Iman Bertambah

Haji mabrur akan melahirkan peningkatan keimanan kepada Allah ﷻ. Seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih takut kepada dosa, dan lebih yakin kepada kehidupan akhirat.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.”

— QS. Al-Anfal : 2

Ibadah haji mengajarkan:

keikhlasan,

kesabaran,

pengorbanan,

serta tawakal kepada Allah.

Karena itu, sepulang haji seharusnya:

lebih rajin menghadiri majelis ilmu,

lebih cinta Al-Qur’an,

dan semakin menjaga tauhid.

Pendapat Ulama

Hasan Al-Bashri mengatakan:

“Tanda haji mabrur adalah seseorang menjadi lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.”

2. Ibadah Lebih Baik

Indikator berikutnya adalah meningkatnya kualitas ibadah setelah berhaji.

Bukan hanya semangat ketika di Makkah dan Madinah, tetapi istiqamah setelah pulang:

menjaga shalat berjamaah,

memperbanyak dzikir,

membaca Al-Qur’an,

dan memperbaiki sunnah-sunnah Nabi ﷺ.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).”

— QS. Al-Hijr : 99

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.”

— HR. Bukhari dan Muslim

Hikmah Haji

Ketika berhaji, seorang jamaah dilatih disiplin:

tepat waktu,

sabar dalam ibadah,

dan taat terhadap aturan syariat.

Jika sepulang haji ibadahnya justru menurun, maka kemabruran perlu dievaluasi.

3. Akhlak Lebih Mulia

Akhlak mulia merupakan tanda paling nyata dari haji mabrur.

Allah ﷻ berfirman:

“Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam haji.”

— QS. Al-Baqarah : 197

Ayat ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya ritual fisik, tetapi juga pendidikan akhlak.

Orang yang hajinya mabrur akan:

lebih sabar,

lebih santun,

menjaga lisan,

tidak mudah marah,

dan menghormati sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

— HR. Tirmidzi

Pendapat Ulama

Imam An-Nawawi menjelaskan:

“Haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa.”

Karena itu, setelah haji seseorang seharusnya meninggalkan:

ghibah,

dusta,

sombong,

dan perilaku buruk lainnya.

4. Peduli Sesama

Haji mabrur tidak hanya melahirkan kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial.

Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang haji mabrur bersabda:

“Memberi makan dan menyebarkan salam.”

— HR. Ahmad

Hadist ini menunjukkan bahwa tanda haji mabrur adalah:

suka membantu,

peduli kepada masyarakat,

ringan bersedekah,

dan membawa manfaat bagi orang lain.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.”

— QS. Al-Maidah : 2

Orang yang mendapatkan kemabruran haji biasanya:

lebih aktif di masjid,

membantu dakwah,

memperhatikan fakir miskin,

dan menjaga ukhuwah Islamiyah.


5. Menjauhi Maksiat

Indikator penting lainnya adalah semakin menjauhi kemaksiatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa berhaji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya.”

— HR. Bukhari dan Muslim

Haji yang mabrur akan membuat seseorang:

takut berbuat dosa,

menjaga pandangan,

menjaga lisan,

menjauhi riba,

serta meninggalkan kebiasaan buruk.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”

— QS. Al-Baqarah : 168

Pendapat Ulama

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan:

“Di antara tanda diterimanya amal adalah munculnya amal saleh setelahnya.”

Maka tanda haji diterima adalah semakin mudah melakukan kebaikan dan semakin berat melakukan maksiat.


Rohmad Riyadi, S.Kom

Khadimud Da'wah Bekasi


Wallahu a'lam Bishowab.


Share:

18 May 2026

Khutbah : Hikmah Pengorbanan Nabi Ibrahim. As

 

Ilutrasi - Berqurban

Oleh : Rohmad Riyadi, Kom

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدًا سَعِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Setiap tahun, umat Islam merayakan Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Perayaan ini bukanlah sekadar ritual penyembelihan hewan ternak, melainkan sebuah momentum besar untuk menggali hikmah mendalam dari sejarah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

1

Kepatuhan dan Keikhlasan Tanpa Batas

Allah SWT menguji Nabi Ibrahim AS melalui mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail. Bayangkan perasaan seorang ayah yang telah menanti buah hati selama puluhan tahun, namun diperintahkan untuk mengorbankannya. Namun, karena dilandasi iman yang kokoh, Nabi Ibrahim melaksanakannya.

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "Ia (Ibrahim) berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS. As-Saffat: 102)

2

Hakikat Pengorbanan

Ibadah kurban mengajarkan kita untuk melepaskan sifat egois dan cinta dunia yang berlebihan. Hewan kurban hanyalah simbol. Yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan kita.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)

3

Kepedulian Sosial

Idul Adha adalah momentum untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan. Melalui pembagian daging kurban, kita diajarkan untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Kesalehan individu harus dibarengi dengan kesalehan sosial.

Jamaah yang Berbahagia,

Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini sebagai sarana untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita: sifat rakus, sombong, iri, dan mau menang sendiri. Mari kita ganti dengan sifat sabar, ikhlas, dan peduli.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Sebagai penutup, marilah kita renungkan bahwa kurban bukan hanya rutinitas tahunan. Kurban adalah pernyataan cinta kita kepada Allah di atas segalanya. Jika Nabi Ibrahim mampu mengorbankan anaknya demi perintah Allah, mampukah kita mengorbankan sedikit harta, waktu, dan tenaga kita untuk membantu agama Allah dan menolong sesama?

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, memberikan kita kekuatan untuk meneladani kesabaran keluarga Nabi Ibrahim, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Penutup & Doa
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، 
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Share:

Rohmad Riyadi, S.Kom : Sejarah Haji Di Indonesia

 

Representasi perjalanan spiritual melintasi zaman dari Nusantara menuju Tanah Suci.

Pangkalan Islam - Ibadah haji bagi masyarakat Nusantara selain salah satu rukun Islam yang kelima, ibadah ini memiliki epik sejarah yang panjang. Selama berabad-abad, perjalanan menuju Tanah Suci telah membentuk ikatan spiritual, sosial, hingga politik yang kuat antara Indonesia dan Timur Tengah. Perjalanan ini berevolusi dari ekspedisi laut yang mempertaruhkan nyawa hingga menjadi salah satu sistem manajemen pemberangkatan jemaah terbesar di dunia.

1. Masa Awal: Ekspedisi di Tengah Penyebaran Islam

Pada masa awal penyebaran Islam di Nusantara (sekitar abad ke-13 hingga ke-17), perjalanan haji adalah sebuah pencapaian luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Umumnya, mereka yang berangkat adalah kaum bangsawan, ulama, atau saudagar kaya.

"Perjalanan pada masa ini sepenuhnya bergantung pada kapal layar tradisional dan angin muson, menumpang kapal dagang internasional mulai dari Gujarat hingga Tiongkok."

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh awal penyebar Islam, seperti Sunan Gunung Jati, melakukan perjalanan haji untuk menimba ilmu agama sebelum kembali dan menyebarkannya di Tanah Jawa. Para jemaah sering kali harus menumpang kapal dagang internasional—mulai dari kapal Gujarat, Persia, hingga Tiongkok—dan singgah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Proses ini memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, di mana banyak jemaah menetap (mukim) di Makkah untuk belajar agama sebelum akhirnya kembali ke Nusantara dengan membawa gelar prestisius dan ilmu keislaman yang mumpuni.

Rohmad Riyadi, S.Kom - Khadimud Dakwah


2. Era Kolonial: Pembatasan, Pengawasan, dan Pergerakan Nasional

Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya, pandangan terhadap ibadah haji mulai berubah drastis. Awalnya, VOC tidak terlalu mencampuri urusan agama ini. Namun, serangkaian perlawanan sengit pada abad ke-19, seperti Perang Padri (1821-1837) dan Perang Diponegoro (1825-1830), menyadarkan Belanda bahwa para haji dan ulama yang baru kembali dari Tanah Suci sering kali menjadi tokoh sentral di balik perlawanan antikolonial.

Merasa terancam oleh ideologi "Pan-Islamisme", pemerintah kolonial mulai memperketat aturan. Pada tahun 1859, Belanda mengeluarkan Ordonansi Haji yang berisi aturan pembatasan yang ketat. Jemaah diwajibkan membayar biaya paspor yang sangat mahal, dan mereka yang pulang harus melewati ujian khusus sebelum berhak menyandang gelar "Haji".

Untuk mengawasi jemaah langsung dari pusatnya, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Konsulat di Jeddah pada tahun 1872. Tokoh seperti Snouck Hurgronje kemudian dikirim untuk memata-matai jemaah asal Indonesia. Namun, tekanan kolonial ini justru menjadi bumerang. Mekkah menjadi ruang aman bagi para tokoh Nusantara untuk bertukar pikiran mengenai kemerdekaan.

3. Evolusi Teknologi: Transformasi Transportasi

Sejarah haji di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari revolusi teknologi transportasi yang membagi era menjadi tiga bagian utama:

ERA KAPAL LAYAR

Sebelum pertengahan abad ke-19, pelayaran sangat berbahaya. Jemaah harus berhadapan dengan ancaman badai, wabah penyakit mematikan seperti kolera, hingga perompak.

ERA KAPAL UAP

Pembukaan Terusan Suez (1869) memangkas waktu dari setengah tahun menjadi hitungan minggu. Angka keberangkatan melonjak drastis di bawah naungan "Kongsi Tiga".

ERA PESAWAT UDARA

Tahun 1979 menjadi titik akhir era laut. Seluruh jemaah diterbangkan (Garuda Indonesia), memangkas waktu menjadi hanya 9-12 jam.

4. Pasca-Kemerdekaan: Kedaulatan Manajemen

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, urusan haji tidak lagi diatur oleh kolonial maupun diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta asing. Pemerintah Republik Indonesia menyadari perlunya turun tangan demi melindungi jemaah dari penipuan, penelantaran, dan bahaya kesehatan.

Pada tahun 1947, Kementerian Agama RI mulai mengambil peran sentral. Pemerintah membentuk Panitia Negara Perbaikan Perjalanan Haji (PNPPH) dan mendirikan PT Pelayaran Muslim (PT PM) untuk mematahkan monopoli pelayaran asing. Lahirlah sistem penyelenggaraan haji kuota nasional yang sentralistik dan terorganisasi.

5. Era Modern: Tata Kelola Digital dan BPKH

Di era modern, manajemen ibadah haji di Indonesia telah menjelma menjadi sebuah tata kelola raksasa. Kementerian Agama (Kemenag), melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), memegang kendali penuh atas operasional global.

Salah satu tonggak terpentingnya adalah pengesahan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 yang melahirkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) pada tahun 2017. BPKH bertugas mengelola dana setoran awal secara transparan dan menginvestasikannya ke dalam instrumen syariah yang aman untuk menyubsidi biaya operasional jemaah.

"Dari pelayaran kapal kayu yang menantang maut berabad-abad silam hingga manajemen keuangan syariah hari ini, sejarah haji adalah cerminan kegigihan dan evolusi sebuah bangsa."

HI

Referensi: Historian Indonesia

Kanal khusus yang membahas catatan sejarah panjang peradaban Islam di Nusantara.

Rohmad Riyadi, S.Kom

WhatsApp : 085719752380

Youtube : RRTVnews

Tiktok : Rahmat Assalaamy

Share:

Umrah 6 Juli 2026 Hub. 085719752380

Translator Bahasa Dunia

Visitor

free web counter

SAVE ROHINGYA

Powered by Blogger.
ads ads ads ads

Latest Posts

Recent comments

Popular Posts

Pages