Pangkalan Informasi Islam

Selamat Datang di Pangkalan Islam, Media Dakwah dan Informasi

25 May 2026

Beberapa Indikator Haji Mabrur

 

Rohmad Riyadi, S.Kom

Pangkalan Islam - Haji merupakan rukun Islam yang kelima dan menjadi impian kaum Muslimin di seluruh dunia. Namun, tujuan utama dari ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual ke Tanah Suci, melainkan memperoleh predikat “Haji Mabrur.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”

— HR. Bukhari dan Muslim

Lalu, apa indikator atau tanda-tanda seseorang mendapatkan haji mabrur?

Para ulama menjelaskan bahwa kemabruran haji akan tampak dari perubahan iman, ibadah, akhlak, dan perilaku seseorang setelah pulang dari haji.

Berikut beberapa indikator haji mabrur berdasarkan Al-Qur’an, hadist, dan pendapat ulama.

1. Iman Bertambah

Haji mabrur akan melahirkan peningkatan keimanan kepada Allah ﷻ. Seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah, lebih takut kepada dosa, dan lebih yakin kepada kehidupan akhirat.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.”

— QS. Al-Anfal : 2

Ibadah haji mengajarkan:

keikhlasan,

kesabaran,

pengorbanan,

serta tawakal kepada Allah.

Karena itu, sepulang haji seharusnya:

lebih rajin menghadiri majelis ilmu,

lebih cinta Al-Qur’an,

dan semakin menjaga tauhid.

Pendapat Ulama

Hasan Al-Bashri mengatakan:

“Tanda haji mabrur adalah seseorang menjadi lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.”

2. Ibadah Lebih Baik

Indikator berikutnya adalah meningkatnya kualitas ibadah setelah berhaji.

Bukan hanya semangat ketika di Makkah dan Madinah, tetapi istiqamah setelah pulang:

menjaga shalat berjamaah,

memperbanyak dzikir,

membaca Al-Qur’an,

dan memperbaiki sunnah-sunnah Nabi ﷺ.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).”

— QS. Al-Hijr : 99

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.”

— HR. Bukhari dan Muslim

Hikmah Haji

Ketika berhaji, seorang jamaah dilatih disiplin:

tepat waktu,

sabar dalam ibadah,

dan taat terhadap aturan syariat.

Jika sepulang haji ibadahnya justru menurun, maka kemabruran perlu dievaluasi.

3. Akhlak Lebih Mulia

Akhlak mulia merupakan tanda paling nyata dari haji mabrur.

Allah ﷻ berfirman:

“Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam haji.”

— QS. Al-Baqarah : 197

Ayat ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya ritual fisik, tetapi juga pendidikan akhlak.

Orang yang hajinya mabrur akan:

lebih sabar,

lebih santun,

menjaga lisan,

tidak mudah marah,

dan menghormati sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

— HR. Tirmidzi

Pendapat Ulama

Imam An-Nawawi menjelaskan:

“Haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dosa.”

Karena itu, setelah haji seseorang seharusnya meninggalkan:

ghibah,

dusta,

sombong,

dan perilaku buruk lainnya.

4. Peduli Sesama

Haji mabrur tidak hanya melahirkan kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial.

Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang haji mabrur bersabda:

“Memberi makan dan menyebarkan salam.”

— HR. Ahmad

Hadist ini menunjukkan bahwa tanda haji mabrur adalah:

suka membantu,

peduli kepada masyarakat,

ringan bersedekah,

dan membawa manfaat bagi orang lain.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.”

— QS. Al-Maidah : 2

Orang yang mendapatkan kemabruran haji biasanya:

lebih aktif di masjid,

membantu dakwah,

memperhatikan fakir miskin,

dan menjaga ukhuwah Islamiyah.


5. Menjauhi Maksiat

Indikator penting lainnya adalah semakin menjauhi kemaksiatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa berhaji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan ibunya.”

— HR. Bukhari dan Muslim

Haji yang mabrur akan membuat seseorang:

takut berbuat dosa,

menjaga pandangan,

menjaga lisan,

menjauhi riba,

serta meninggalkan kebiasaan buruk.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”

— QS. Al-Baqarah : 168

Pendapat Ulama

Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan:

“Di antara tanda diterimanya amal adalah munculnya amal saleh setelahnya.”

Maka tanda haji diterima adalah semakin mudah melakukan kebaikan dan semakin berat melakukan maksiat.


Rohmad Riyadi, S.Kom

Khadimud Da'wah Bekasi


Wallahu a'lam Bishowab.


Share:

18 May 2026

Khutbah : Hikmah Pengorbanan Nabi Ibrahim. As

 

Ilutrasi - Berqurban

Oleh : Rohmad Riyadi, Kom

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدًا سَعِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul di masjid yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Setiap tahun, umat Islam merayakan Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Perayaan ini bukanlah sekadar ritual penyembelihan hewan ternak, melainkan sebuah momentum besar untuk menggali hikmah mendalam dari sejarah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

1

Kepatuhan dan Keikhlasan Tanpa Batas

Allah SWT menguji Nabi Ibrahim AS melalui mimpi untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail. Bayangkan perasaan seorang ayah yang telah menanti buah hati selama puluhan tahun, namun diperintahkan untuk mengorbankannya. Namun, karena dilandasi iman yang kokoh, Nabi Ibrahim melaksanakannya.

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "Ia (Ibrahim) berkata: 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS. As-Saffat: 102)

2

Hakikat Pengorbanan

Ibadah kurban mengajarkan kita untuk melepaskan sifat egois dan cinta dunia yang berlebihan. Hewan kurban hanyalah simbol. Yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan kita.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)

3

Kepedulian Sosial

Idul Adha adalah momentum untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan. Melalui pembagian daging kurban, kita diajarkan untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Kesalehan individu harus dibarengi dengan kesalehan sosial.

Jamaah yang Berbahagia,

Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini sebagai sarana untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita: sifat rakus, sombong, iri, dan mau menang sendiri. Mari kita ganti dengan sifat sabar, ikhlas, dan peduli.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

Sebagai penutup, marilah kita renungkan bahwa kurban bukan hanya rutinitas tahunan. Kurban adalah pernyataan cinta kita kepada Allah di atas segalanya. Jika Nabi Ibrahim mampu mengorbankan anaknya demi perintah Allah, mampukah kita mengorbankan sedikit harta, waktu, dan tenaga kita untuk membantu agama Allah dan menolong sesama?

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, memberikan kita kekuatan untuk meneladani kesabaran keluarga Nabi Ibrahim, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Penutup & Doa
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، 
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Share:

Rohmad Riyadi, S.Kom : Sejarah Haji Di Indonesia

 

Representasi perjalanan spiritual melintasi zaman dari Nusantara menuju Tanah Suci.

Pangkalan Islam - Ibadah haji bagi masyarakat Nusantara selain salah satu rukun Islam yang kelima, ibadah ini memiliki epik sejarah yang panjang. Selama berabad-abad, perjalanan menuju Tanah Suci telah membentuk ikatan spiritual, sosial, hingga politik yang kuat antara Indonesia dan Timur Tengah. Perjalanan ini berevolusi dari ekspedisi laut yang mempertaruhkan nyawa hingga menjadi salah satu sistem manajemen pemberangkatan jemaah terbesar di dunia.

1. Masa Awal: Ekspedisi di Tengah Penyebaran Islam

Pada masa awal penyebaran Islam di Nusantara (sekitar abad ke-13 hingga ke-17), perjalanan haji adalah sebuah pencapaian luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Umumnya, mereka yang berangkat adalah kaum bangsawan, ulama, atau saudagar kaya.

"Perjalanan pada masa ini sepenuhnya bergantung pada kapal layar tradisional dan angin muson, menumpang kapal dagang internasional mulai dari Gujarat hingga Tiongkok."

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh awal penyebar Islam, seperti Sunan Gunung Jati, melakukan perjalanan haji untuk menimba ilmu agama sebelum kembali dan menyebarkannya di Tanah Jawa. Para jemaah sering kali harus menumpang kapal dagang internasional—mulai dari kapal Gujarat, Persia, hingga Tiongkok—dan singgah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Proses ini memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, di mana banyak jemaah menetap (mukim) di Makkah untuk belajar agama sebelum akhirnya kembali ke Nusantara dengan membawa gelar prestisius dan ilmu keislaman yang mumpuni.

Rohmad Riyadi, S.Kom - Khadimud Dakwah


2. Era Kolonial: Pembatasan, Pengawasan, dan Pergerakan Nasional

Ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya, pandangan terhadap ibadah haji mulai berubah drastis. Awalnya, VOC tidak terlalu mencampuri urusan agama ini. Namun, serangkaian perlawanan sengit pada abad ke-19, seperti Perang Padri (1821-1837) dan Perang Diponegoro (1825-1830), menyadarkan Belanda bahwa para haji dan ulama yang baru kembali dari Tanah Suci sering kali menjadi tokoh sentral di balik perlawanan antikolonial.

Merasa terancam oleh ideologi "Pan-Islamisme", pemerintah kolonial mulai memperketat aturan. Pada tahun 1859, Belanda mengeluarkan Ordonansi Haji yang berisi aturan pembatasan yang ketat. Jemaah diwajibkan membayar biaya paspor yang sangat mahal, dan mereka yang pulang harus melewati ujian khusus sebelum berhak menyandang gelar "Haji".

Untuk mengawasi jemaah langsung dari pusatnya, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Konsulat di Jeddah pada tahun 1872. Tokoh seperti Snouck Hurgronje kemudian dikirim untuk memata-matai jemaah asal Indonesia. Namun, tekanan kolonial ini justru menjadi bumerang. Mekkah menjadi ruang aman bagi para tokoh Nusantara untuk bertukar pikiran mengenai kemerdekaan.

3. Evolusi Teknologi: Transformasi Transportasi

Sejarah haji di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari revolusi teknologi transportasi yang membagi era menjadi tiga bagian utama:

ERA KAPAL LAYAR

Sebelum pertengahan abad ke-19, pelayaran sangat berbahaya. Jemaah harus berhadapan dengan ancaman badai, wabah penyakit mematikan seperti kolera, hingga perompak.

ERA KAPAL UAP

Pembukaan Terusan Suez (1869) memangkas waktu dari setengah tahun menjadi hitungan minggu. Angka keberangkatan melonjak drastis di bawah naungan "Kongsi Tiga".

ERA PESAWAT UDARA

Tahun 1979 menjadi titik akhir era laut. Seluruh jemaah diterbangkan (Garuda Indonesia), memangkas waktu menjadi hanya 9-12 jam.

4. Pasca-Kemerdekaan: Kedaulatan Manajemen

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, urusan haji tidak lagi diatur oleh kolonial maupun diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta asing. Pemerintah Republik Indonesia menyadari perlunya turun tangan demi melindungi jemaah dari penipuan, penelantaran, dan bahaya kesehatan.

Pada tahun 1947, Kementerian Agama RI mulai mengambil peran sentral. Pemerintah membentuk Panitia Negara Perbaikan Perjalanan Haji (PNPPH) dan mendirikan PT Pelayaran Muslim (PT PM) untuk mematahkan monopoli pelayaran asing. Lahirlah sistem penyelenggaraan haji kuota nasional yang sentralistik dan terorganisasi.

5. Era Modern: Tata Kelola Digital dan BPKH

Di era modern, manajemen ibadah haji di Indonesia telah menjelma menjadi sebuah tata kelola raksasa. Kementerian Agama (Kemenag), melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), memegang kendali penuh atas operasional global.

Salah satu tonggak terpentingnya adalah pengesahan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 yang melahirkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) pada tahun 2017. BPKH bertugas mengelola dana setoran awal secara transparan dan menginvestasikannya ke dalam instrumen syariah yang aman untuk menyubsidi biaya operasional jemaah.

"Dari pelayaran kapal kayu yang menantang maut berabad-abad silam hingga manajemen keuangan syariah hari ini, sejarah haji adalah cerminan kegigihan dan evolusi sebuah bangsa."

HI

Referensi: Historian Indonesia

Kanal khusus yang membahas catatan sejarah panjang peradaban Islam di Nusantara.

Rohmad Riyadi, S.Kom

WhatsApp : 085719752380

Youtube : RRTVnews

Tiktok : Rahmat Assalaamy

Share:

11 May 2026

Larangan Debat Kusir

 

Ilustrasi


Pangkalan Islam - Islam mengajarkan umatnya untuk berdialog dengan adab, ilmu, dan akhlak yang baik. Namun, ketika perdebatan berubah menjadi “debat kusir” — yaitu perdebatan tanpa tujuan mencari kebenaran dan hanya ingin menang sendiri — maka hal tersebut menjadi sesuatu yang dilarang dalam ajaran Islam.

Debat kusir biasanya ditandai dengan saling menyalahkan, emosi berlebihan, memotong pembicaraan, hingga mengabaikan fakta dan nasihat. Dalam Islam, sikap seperti ini dapat merusak ukhuwah, memicu permusuhan, dan menjauhkan hati dari hidayah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” — QS. Al-Hajj: 8

Ayat tersebut menjadi peringatan agar manusia tidak gemar membantah tanpa dasar ilmu yang benar. Islam mendorong umatnya untuk berbicara berdasarkan ilmu, bukan hawa nafsu atau emosi semata.

Selain itu, Allah juga memerintahkan agar berdakwah dan berdiskusi dengan cara yang baik:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” — QS. An-Nahl: 125

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat boleh disampaikan, namun harus tetap menjaga akhlak, kelembutan, dan tujuan mencari kebenaran.

Dalam hadis Rasulullah SAW juga terdapat peringatan keras terhadap kebiasaan gemar berdebat. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar.” — HR. Abu Dawud

Hadis tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan menahan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat, meskipun seseorang berada di pihak yang benar.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa suatu kaum bisa tersesat setelah mendapat petunjuk karena terlalu gemar berdebat. Hal ini menjadi pelajaran penting agar umat Islam lebih mengutamakan akhlak, persaudaraan, dan ketenangan dibanding memperturutkan ego dalam perdebatan.

Para ulama menjelaskan bahwa diskusi ilmiah yang bertujuan mencari kebenaran tetap diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Namun jika perdebatan sudah berubah menjadi ajang saling menjatuhkan, menghina, atau mempertahankan gengsi pribadi, maka hal tersebut termasuk perbuatan tercela.

" Di era media sosial saat ini, debat kusir semakin mudah terjadi. Banyak orang terpancing untuk saling menyerang di kolom komentar tanpa adab dan tanpa ilmu yang memadai. Karena itu, umat Islam diingatkan untuk lebih bijak dalam berbicara dan menjaga lisan maupun tulisan " Ungkap Rohmad Riyadi, S.Kom salah satu pegiat Dakwah media.

Islam mengajarkan bahwa diam terkadang lebih baik daripada memperpanjang pertengkaran yang tidak membawa manfaat. Menjaga persatuan, menghormati sesama, dan mengedepankan akhlak mulia merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Share:

Umrah 6 Juli 2026 Hub. 085719752380

Translator Bahasa Dunia

Visitor

free web counter

SAVE ROHINGYA

Powered by Blogger.
ads ads ads ads

Latest Posts

Recent comments

Popular Posts

Pages