 |
| Ustadz Dr. Fahmi Salim |
Pangkalan Islam - Rasulullah Muhammad putera Abdullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam lahir 53 tahun sebelum beliau hijrah dari Makkah ke Madinah yang kini memasuki tahun 1447 Hijriyah.
Dalam rangka memperingati 1500 tahun kelahiran Al-Musthafa ﷺ, kelahiran cahaya hidayah ✨ ijinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan dan mengandaikan jawabannya seputar kehadiran beliau.
Jika kita mengajukan pertanyaan ini: "Bagaimana jika Rasulullah ﷺ hadir di tengah-tengah kita hari ini?", maka jawaban akan beragam, tetapi semuanya kembali pada dua hal: introspeksi diri dan meneladani beliau ﷺ.
1. Dalam hubungan kita dengan Allah
Apabila Rasulullah ﷺ hadir di tengah kita hari ini, apakah beliau akan gembira melihat shalat kita atau bersedih atas kelalaian kita?
Apakah beliau akan melihat Al-Qur’an dibaca dan diamalkan dalam kehidupan keluarga, sosial, ekonomi dan politik umat ini, atau hanya sekadar huruf-huruf yang menghiasi dinding dan menjadi ruqyah pengusir gangguan jin?
2. Dalam akhlak dan muamalah kita
Apakah beliau akan mendapati kejujuran, amanah, dan kasih sayang, atau justru penipuan, kezaliman, dan egoisme?
Apakah beliau akan melihat kasih sayang terhadap fakir miskin sebagaimana beliau wasiatkan, ataukah malah pengabaian dan sikap keras hati yang menjadi dosa besar pendustaan agama?
3. Dalam kehidupan sosial kita
Apakah beliau akan melihat keluarga muslim yang berdiri di atas cinta, rahmah dan keadilan gender, atau keluarga yang hancur oleh problem rumah tangga?
Apakah beliau akan melihat para pemuda yang taat kepada Allah dan meneladani beliau, atau pemuda yang larut dalam meniru budaya Barat yang permissif dan terjebak dalam fitnah dunia?
4. Dalam keadaan umat Islam
Apakah beliau akan bergembira dengan persatuan dan kerja sama kita, ataukah beliau akan bersedih melihat perpecahan dan konflik ormas-ormas Islam dan negara-negara muslim?
Apakah beliau akan melihat kita membela kaum tertindas (Palestina, Gaza, dan yang teraniaya), ataukah beliau mendapati kita meninggalkan wasiatnya: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya”?
5. Dalam hubungan kita dengan beliau ﷺ
Apakah kita semua akan bersegera berkata: “Demi engkau wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu”?
Ataukah beliau akan menegur kita karena kita meninggalkan sunnahnya, lalu mengaku mencintainya hanya dengan lisan tanpa amal?
✨ Jika Rasulullah ﷺ hadir di tengah kita hari ini:
Kita akan malu dengan pandangan beliau terhadap kaum muslimin secara umum.
Beliau akan melihat banyak umatnya yang mencintainya dengan kata-kata dan syair pujian, tetapi sedikit yang benar-benar mengikuti ajarannya.
Beliau akan sedih karena umat yang Allah sebut: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (Q.s. Ali Imran: 110) justru menjadi umat yang terpecah, terpisah, dan sibuk dengan perselisihan duniawi.
Kita tidak akan bisa mengangkat kepala di hadapan beliau karena keadaan para pemimpin muslim.
Beliau akan bertanya: “Di mana ghirah iman dan kecemburuan kalian terhadap Baitul Maqdis?”
Beliau akan menegur mereka sebagaimana Allah menegur para sahabat di Uhud:
اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَا ۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Apakah ketika kamu ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Āli ‘Imrān [3]:165)
Ya kekalahan Uhud dan kekalahan kalian di tahun 1948 dan 1967 melawan yahudi disebabkan penyakit cinta dunia dan takut mati yang bercokol di hati kalian.
Beliau akan mengingatkan bahwa umat ini adalah satu tubuh, dan membiarkan Al-Aqsa dikuasai penjajah adalah pengkhianatan terhadap amanah Allah.
Kita sangat takut dan khawatir tidak dihimpun bersama beliau di hari kiamat karena sikap kita terhadap Palestina. Kenapa?
Beliau akan melihat darah syuhada mengalir di Gaza dan Al-Quds, lalu bersabda sebagaimana sabdanya dahulu: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan, saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari-Muslim).
Beliau akan menuntut agar kita tidak meninggalkan Al-Aqsa sendirian, agar kita tidak menjual masalahnya di meja perundingan politik, dan agar kita sadar bahwa menolong Al-Aqsa dan Palestina bukan pilihan politik, melainkan kewajiban agama.
Apa yang beliau ﷺ inginkan dari kita?
Agar kita menyatukan barisan sebagai satu umat, bukan negara-negara yang tercerai berai dan tersekat oleh nasionalisme sempit dan asabiyah jahiliyah.
Agar kita menggerakkan seluruh potensi: dengan doa, harta, kata-kata, boikot, dan semua cara yang halal.
Agar kita mendidik anak-anak kita dengan cinta Al-Aqsa, karena itu adalah warisan Isra’ Mi’raj.
Agar kita yakin bahwa pembebasan Palestina adalah janji Allah, tetapi ia bergantung pada kembalinya umat kepada agamanya. Sebagaimana sabdanya ﷺ: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menampakkan kebenaran… hingga yang terakhir dari mereka berperang melawan Al-Masih Ad-Dajjal” (HR. Muslim).
📌 Kesimpulan
Jika Rasulullah ﷺ ada bersama kita hari ini, maka pertanyaan terbesar yang akan beliau ajukan adalah:
“Apakah kalian telah melaksanakan risalahku? Apakah kalian telah menyampaikan kepada seluruh manusia bahwa aku adalah rahmat?”
Seandainya Rasulullah ﷺ hadir di tengah kita hari ini, beliau akan tersenyum atas cinta kita kepadanya, namun menangis melihat keadaan kita terhadap Al-Aqsa. Lalu beliau berkata:
“Jika kalian benar-benar mencintaiku… maka tolonglah tempat Isra’-ku, dan bebaskanlah tanah para nabi.”
Shalawat Salam semoga terus berlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya yang setia berjuang dan isqtiqamah mengamalkan ajarannya.
Ustadz Dr. Fahmi Salim Zubair
Ketua Umum Forum Dai & Muballigh Azhari Indonesia - Direktur Baitul Maqdis Institute
Jakarta, 12 Rabi'ul Awwal 1447 H/5 September 2025 M