![]() |
| Rohmad Riyadi, S.Kom - Khatib |
Pangkalan Islam - Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cibitung menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat pagi dengan penuh khidmat ( 20/3/2026). Dalam khutbahnya, khatib sekaligus imam Ustadz Rohmad Riyadi, S.Kom menyampaikan pesan mendalam tentang makna kemenangan sejati di hari raya Idul Fitri.
Khutbah diawali dengan gema takbir yang menggema, dilanjutkan dengan pujian kepada Allah Subhānahu wa Ta‘ālā serta shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam pembukaannya, khatib mengingatkan pentingnya ketakwaan sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 dan Ali Imran ayat 133.
Idul Fitri: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Kemenangan Hakiki
Khatib menegaskan bahwa Idul Fitri bukan hanya sekadar penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan, melainkan momentum kemenangan sejati bagi umat Islam. Kemenangan tersebut hanya diraih oleh mereka yang berhasil menjadikan Ramadhan sebagai sarana perubahan diri.
![]() |
| Jama'ah Shalat Idul Fitri Cibitung |
“Apakah kita benar-benar keluar dari Ramadhan sebagai pribadi yang lebih baik?” menjadi pertanyaan reflektif yang diajukan kepada seluruh jamaah. Kemenangan sejati, menurut khutbah tersebut, adalah ketika hati menjadi lebih bersih, akhlak semakin mulia, dan hubungan dengan Allah semakin dekat.
Ramadhan sebagai Madrasah Kehidupan
Dalam khutbahnya, dijelaskan bahwa Ramadhan adalah madrasah kehidupan yang setiap tahun Allah hadirkan untuk mendidik orang-orang beriman. Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih untuk:
Mengendalikan hawa nafsu
Meningkatkan kualitas ibadah
Memperbaiki hubungan dengan sesama manusia
Tujuan utama dari seluruh proses tersebut adalah mencapai derajat takwa, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.
Empat Tanda Kelulusan dari Madrasah Ramadhan
Khatib kemudian menguraikan empat tanda utama seseorang yang berhasil “lulus” dari madrasah Ramadhan, berdasarkan Surah Ali Imran ayat 133–135.
1. Hati yang Dermawan
Orang bertakwa adalah mereka yang gemar berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Ramadhan telah melatih umat Islam untuk peduli terhadap sesama melalui sedekah dan berbagi.
2. Mampu Menahan Amarah
Kekuatan sejati bukan terletak pada fisik, tetapi pada kemampuan mengendalikan emosi. Orang yang berhasil dididik oleh Ramadhan akan menjadi lebih sabar dan tidak mudah tersulut amarah.
3. Mudah Memaafkan
Salah satu ciri orang bertakwa adalah memiliki hati yang lapang dan mudah memaafkan. Dalam khutbah juga disinggung bahwa banyak konflik rumah tangga terjadi karena sulitnya saling memaafkan. Bahkan data menunjukkan tingginya angka perceraian di Indonesia disebabkan oleh pertengkaran yang berlarut-larut.
Khatib menekankan pentingnya menghilangkan ego dan membiasakan meminta serta memberi maaf, terutama dalam lingkungan keluarga.
4. Segera Bertaubat
Manusia tidak luput dari kesalahan, namun yang membedakan adalah kecepatan dalam kembali kepada Allah. Orang bertakwa akan segera beristighfar dan tidak terus-menerus dalam dosa.
Menjaga Semangat Ramadhan Sepanjang Tahun
Di akhir khutbah, khatib mengajak seluruh jamaah untuk membawa pulang nilai-nilai Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun bulan Ramadhan telah berlalu, semangat ibadah, kepedulian, dan akhlak mulia harus tetap hidup sepanjang tahun.
Idul Fitri pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya sesaat, tetapi secara berkelanjutan.
Kesimpulan:
Khutbah Idul Fitri 1447 H di Muhammadiyah Cibitung menegaskan bahwa kemenangan sejati bukan pada perayaan, melainkan pada perubahan diri. Empat tanda utama—dermawan, mampu menahan amarah, mudah memaafkan, dan segera bertaubat—menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam menjalani madrasah Ramadhan.









0 comments:
Post a Comment