Pangkalan Islam - Cuplikan Kisah Siti Walidah, pendamping hidup Sang Pencerah
Oleh: Heru Setyo Prabowo
Film besutan Olla Ata Adonara memberikan gambaran tentang kehidupan dan perjuangan Siti Walidah, nama asli yang dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Sedari kecil Siti Walidah bercita-cita ingin menjadi pintar. Hal itu diucapkannya dan dibuktikan dengan belajar kepada Ayahnya dengan tekun. Ayahnya adalah Kyai Haji Muhammad Fadli, seorang kyai atau ulama dan menjadi anggota kesultanan Yogyakarta. Siti Walidah belajar dengan cara yang sekarang dikenal sebagai home-schooling. Banyak hal yang dipelajarinya terutama tentang agama Islam, Bahasa Arab dan Al Quran serta hal-hal lainnya.
Sekita 7 tahun yang lalu, tepatnya bulan September 2010, saya mengajak istri dan dua anak perempuan saya menonton film Sang Pencerah di tempat di mana film Nyai Ahmad Dahlan diputar tanggal 27 Agustus 2017 yang lalu.. Dan saat itu kami menonton tanpa dikoordinir dan tanpa dilabeli nobar alias nonton bareng. Berbeda dengan film Sang Pencerah, ternyata peredaran film Nyai Ahmad Dahlan nampak harus diperjuangkan, minimal harus ditonton 15 juta pemirsa bila tidak ingin tereliminasi dari pemutaran di gedung-gedung bioskop. Secara teknis, saya tidak tahu kenapa harus begitu tapi itu yang saya baca di grup Whatsapp Muhammadiyah Bekasi (PDM Kabupaten Bekasi). Dan saya bersyukur bisa ikut berpartisipasi ikut acara nobar ini, meskipun tanpa kedua anak perempuan saya. Sebagai anggota Muhammadiyah, sejujurnya saya tidaklah banyak tahu tentang istri dari Sang Pencerah KH. Ahmad Dahlan. Maka inisiatif nonton bareng ini sangat diapresiasi.
Menurut saya, film ini sangat penting dan mengandung nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan dan juga dalam hal dakwah agama Islam, yang tidak hanya perlu ditonton oleh orang-orang Muhammadiyah dan simpatisannya namun juga saudara-saudara kita di luar Muhammadiyah. Skenario film yang ditulis oleh Dyah Kalsitorini cukup jelas, runtut dan mewakili hampir sebagian besar sepak terjang Nyai Ahmad Dahlan, terlepas dari sejumlah kritikan oleh para kritikus film.
Ada beberapa episode kehidupan Nyai Ahmad Dahlan yang berkwalitas yang dapat kita reaktualisasi dalam kehidupan kita.
Pertama, *Seorang Pembelajar.* Siti Walidah kecil hingga dewasa gemar belajar. Sebagai anak seorang kyai pasti beliau sudah faham betul dengan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan kewajiban menuntut ilmu bagi tiap muslim laki-laki dan perempuan. Cita-citanya ingin menjadi _pintar._ Pintar adalah salah satu dari 4 (empat) sifat Nabi SAW, yang kita kenal sebagai _fathonah_ ( فطنة ) atau menurut ejaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang benar adalah *fatanah.* Menurut KBBI edisi ketiga tahun 2003 di halaman 314, fatanah berarti *pintar, cerdik, cerdas.* Dan menurut kamus English and Arabic Edition oleh Hans Wehr, J. Milton Cowan pada hal 720, Fatan(ah) berarti _to be or to become clever, smart, discerning, sagacious, perspicacious, bright, intelligent._ Sesungguhnya pembelajaran yang dilalui oleh Nyai Ahmad Dahlan kecil telah sesuai dengan konteks pendidikan di Indonesia zaman sekarang yang dikenal ada 3 (aspek) ranah, domein atau aspek yang ditekankan yaitu afektif (sikap), kognitif (pengetahuan) dan psikomotor (ketrampilan). Dengan usaha Pemerintah yang menginginkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di seluruh jenjang sekolah maka menonton film Nyai Ahmad Dahlan, dalam perspektif ini, menjadi sebuah keniscayaan.
Kedua, *Seorang Pemberani.* Saat dalam kehidupan berumah tangga, beliau tidak segan-segan ikut mendampingi dakwah suaminya yaitu KH. Ahmad Dahlan. Di antaranya, meski sedang hamil, beliau minta izin untuk ikut berdakwah amar makruf nahi munkar dan akhirnya diizinkan ikut mendampingi berdakwah menemui masyarakat yang sedang bekerja di ladang. Bahkan ada dialog yang sangat menarik antara Nyai Ahmad Dahlan dengan seorang anggota masyarakat di mana orang tersebut sempat menegur mengapa Nyai Ahmad Dahlan tidak mengenakan sesuatu (digantungkan, dikalungkan, dipasangkan) yang bisa melindungi dirinya dan bayinya. Dengan sigap beliau menjawab dengan hikmah dan pengajaran yang baik bahwasanya seorang Muslim seharusnya menggantungkan nasibnya hanya kepada Allah SWT saja. Luar biasa, peristiwa ini nampak kecil namun mampu menyelamatkan akidah masyarakat. Apa lagi saat beliau ikut ke Banyuwangi, di mana KH. Ahmad Dahlan diancam dibunuh karena dianggap membawa ajaran yang sesat. Dan ini yang harus terus diperjuangkan oleh para kader Muhammadiyah, membersihkan akidah yang _tidak lurus_ dengan cara hikmah dan pengajaran yang baik (QS. 16:125 / 31:13,15).
Ketiga, *Seorang Pendidik.* Nyai Ahmad Dahlan mampu menjadi pendidik bagi anak-anaknya sendiri maupun bagi masyarakat di sekitarnya. Betapa beliau memiliki kemampuan dalam mendidik anak-anaknya dengan cara kelembutan, tutur katanya mampu melunakan hati anaknya, yang tengah asyik bermain biola, agar timbul kesadarannya untuk mendahulukan ibadah sholat pada waktunya dan dipatuhinya. Begitu juga dengan pendidikan terhadap masyarakat di sekitarnya. Indikasi keberhasilan beliau dalam mendidik masyarakat terlihat dari antusiasme keinginan belajar, tidak hanya dari kaum muda namun juga kaum yang sudah tua. Bahkan mendirikan kelompok pengajian dengan nama _Sopo Tresno_ yang merupakan cikal bakal lahirnya Aisyiyah.
Keempat, *Seorang Pejuang.* Tidak diragukan lagi tingkat kepejuangan beliau. Beliau rela tetap berjuang berdakwah amar makruf nahi munkar meskipun telah sampai pada titik nadir ketiadaan dana untuk membiayai perjuangannya. Beliau merelakan barang-barang yang ada dalam rumahnya termasuk perhiasannya untuk dilelang atau dijual untuk meneruskan langkah cita-citanya dan suaminya. Sifat dan sikap pejuang ini yang memberi andil besar terhadap keberlangsungan dan eksistensi Muhammadiyah hingga hari ini. Beliau tetap konsisten dengan prinsipnya ini, meneruskan perjuangan suaminya, KH. Ahmad Dahlan yang meninggal dunia pada tahun 1923. Bahkan pada tahun 1926, beliau memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Beliau adalah wanita pertama yang memimpin konferensi seperti itu. Termasuk juga perjuangan beliau di dalam kemerdekaan Repubik Indonesia. Bahkan Jenderal Sudirman pun sering sowan untuk meminta pendapat, saran, nasehat dan doa dari Nyai Ahmad Dahlan. Tidak mengherankan bila pada tanggal 10 November 1971 kemudian Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau yang diterimakan oleh cucunya yang bernama M. Wardan.
Pada tanggal 31 Mei 1946, Nyai Ahmad Dahlan menghembuskan nafas terakhirnya di saat Indonesia telah merdeka dan berkembangnya Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh wilayah Republik Indonesia. Wahai Nyai Ahmad Dahlan, ruh semangat perjuanganmu tetap memberikan motivasi dan inspirasi nyata bagi kami para penerus cita-citamu.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, meski demikian penyempurnaan atas tulisan ini masih perlu dilakukan.
Selamat Milad Muhammadiyah yang pada hari ini tanggal 8 Dzulhijjah 1438 H menginjak usianya yang ke 108. Keep spirit and keep fighting. Tetap semangat dan terus berjuang.
Oleh: Heru Setyo Prabowo
Ketua PCM Karang Bahagia Cikarang, Bekasi
Cikarang, 30 Agustus 2017







0 comments:
Post a Comment